Pertama kali memegang dus Nokia 2630 ini saya kaget. Ukuran kardusnya sangat kecil. Mungkin hana sepertiga dari dus Nokia 6288, dan seperenam dari dus Sony Ericsson M600i yang indah. Dus ini terkesan sangat minimalis, mungkin sama dengan dus Nokia seri 1 dan seri 2 lainnya. Nokia 2630 memiliki desain candy bar tetapi sangat tipis. Ketika dimasukkan ke kantong terasa sangat ringan dan tidak membebani sama sekali. Ukuran panjang dan lebarnya cukup proporsional sehingga tetap enak digenggam. Ukuran ini tidak terlalu kecil untuk dipencet-pencet.
Layar 65.000 warna memang termasuk yang minimalis untuk ukuran ponsel kelas menengah saat ini. Tetapi layar itu cukup untuk menampilkan tulisan dan gambar foto yang masih enak dipandang.
Susunan sembilan menu utama pada layar masih khas Nokia. Perubahan tampak pada penempatan indikator baterai dan sinyal. Dua indikator itu tidak lagi ditempatkan di sisi kiri dan kanan layar melainkan pada sisi atas, mirip dengan indikator pada Sony Ericsson. Cara penempatan SIM card juga tidak nyaman sebagaimana gaya Nokia yang saya kenal sebelumnya. Penempatan SIM card justru mengadopsi model Sony Ericsson (misalnya seperti pada M600i) yang merepotkan.
Pada sisi kanan handset ada satu slot untuk earphone, satu slot untuk isi ulang baterai. Di tengahnya terdapat satu slot micro USB yang (menurut buku panduan) hanya boleh dipakai oleh teknisi Nokia. Sedangkan di sisi kanan bagian bawah terdapat satu shortcut kamera.Pada sisi lainnya tidak ada slot maupun tombol. Bahkan koneksi dengan kabel data juga tidak dimungkinkan. Sinkronisasi ke PC dengan Nokia PC Suite hanya dapat dilakukan melalui bluetooth.
Ponsel ini tersedia hanya dengan satu pilihan warna, yaitu dominan hitam dengan garis metalik. Pada papan kunci terdapat lampu berwarna kebiruan untuk kemudahan penulisan pesan di tempat gelap.Dari sisi fisik, ponsel ini terkesan seadanya dan ringkih. Saya merasa agak takut juga untuk menekan-nekan tombol navigasi dengan cukup keras. Untungnya, tombol yang tersedia cukup lunak dan nyaman dipencet.
Susunan sembilan menu utama pada ponsel Nokia 2630 ini dapat diubah-ubah sesuai selera. Pilihan short cut pada tombol di sisi kanan dan kiri bawah layar juga lebih bervariasi. Short cut juga tersedia pada tombol navigasi empat arah sehingga memudahkan pengoperasian. Contohnya, kita bisa menunci layar hanya dengan sekali memencet salah satu tombol short cut.
Setelah terbiasa menggunakan ponsel yang ramping dan sangat ringan ini, saya merasa semua ponsel lain terasa berat dan tebal. Bahkan Blackberry Pearl yang tipis dan bobotnya kurang dari 90 gram pun jadi terasa cukup besar dan tebal di tangan.
Satu hal yang paling mengecewakan bagi saya adalah pembaruan pada peranti lunak Nokia seri 40 yang membuat ponsel ini tidak lagi bisa dipasangkan dengan aplikasi Running Voice GSM pada Ipaq 4350 milik saya. Tadinya saya berasumsi bisa mengirim, menyedot, dan mengimport SMS pada Nokia 2630 ini ke file txt melalui Ipaq. Tetapi harapan itu pupus sudah.
Bagimana pun, untuk harga Rp1 jutaan, ponsel ini termasuk sangat menarik dan menggoda. Ponsel ini mampu bersaing dengan ponsel merek lain dengan haga yang setara.
Spesifikasi
Jaringan : GSM 900 / 1800
Ukuran : 105 x 45 x 9,9 mm, 45 cc
Bobot : 66 g
Layar : TFT, 65.000 warna, 128 x 160 piksel
Dering : Poliponik 24 channel, MP3
Phonebook : 1.000 entry, dengan photocall
Memori internal: 11 MB
Kamera : VGA
Sumber: GSM Arena
KelebihanDesain indah, sangat tipis, sangat ringan, murah
KekuranganRingkih (tidak kokoh), penempatan SIM card merepotkan
0 Komentar untuk "Nokia 2630"